Selasa, 10 April 2012

Ancaman Demam Berdarah Hanta








Kalau selama ini kita selalu dihantui sama dengan Demam Berdarah Dengue, maka penyakit Demam Berdarah Hanta pun patut kita waspadai karena sama-sama fatal.
Demam Berdarah Hanta ini disebabkan juga oleh virus. Namun Infeksi virus Hanta merupakan infeksi pada binatang yang ditularkan ke manusia, merupakan salah satu penyakit emerging pathogenic virus disease yang perlu diperhatikan mengingat, dua bentuk manifestasi klinik berat yang sangat berbeda tergantung pada strain penyebab dan binatang pembawanya.
Di Indonesia, infeksi tersebut merupakan salah satu penyakit yang disebut new emerging disease di samping penyakit yang lain seperti influenza H1N1, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), infeksi HIV/AIDS, Meningitis meningokokus, Hand Foot & Mouth disease. Infeksi virus Hanta pada manusia menyebabkan dua jenis penyakit yaitu pertama Demam Berdarah dengan Gangguan Ginjal (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome = HFRS) dan kedua Hantavirus Cardio Pulmonary Syndrome (HCPS) yang banyak ahli menyebut Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).
            Di Indonesia sebenarnya telah ditemukan pada tiga spesies tikus, seperti hasil penelitian ibrahim dkk pada tahun 1999-2000 di daerah daerah di Indonesia, yaitu Pulau Batam, Serang, Kemayoran, Subang, Semarang dan Wonosobo. Di Semarang kejadian infeksi virus Hanta pada manusia dilaporkan oleh Suharti dkk (2002), dari 94 sediaan darah kasus yang suspek demam berdarah dengue (DBD), terdapat 10 kasus hasilnya bukan DBD melainkan Demam Berdarah Hanta, dengan pemeriksaan serologik virus Hanta yang spesifik. Milanti dkk (2005) di Bandung melaporkan dua penderita demam berdarah yang disangka Demam Berdarah Dengue, ternyata pemeriksaan antibodi anti-HTV (HantaVirus) menunjukkan hasil yang positif.
A.    Penyebaran Demam Berdarah Hanta
       Di Asia Tenggara, infeksi virus Hanta pada manusia dilaporkan di Korea, Filipina, Singapore, Thailand dan Indonesia. Infeksi virus Hanta ditularkan lewat binatang pengerat (rodent) seperti tikus, yang merupakan host reservoir melalui urin dan feses. Pada binatang itu sendiri tidak menyebabkan penyakit, tetapi dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Manusia dapat terinfeksi melalui inhalasi (terhisap), jika seseorang terhirup debu yang tercemar ekskreta (feses, urin, saliva) yang berasal dari tikus yang terinfeksi. Debu yang tercemar ini dapat bertaburan ketika seseorang membersihkan rumah yang sudah lama tidak dihuni. Virus dapat dijumpai pada paru, limpa dan ginjal binatang rodensia yang terinfeksi dalam waktu yang lama. Di samping itu, gigitan rodensia yang terinfeksi dan memakan makanan yang tercemar oleh urin, feses dan saliva dari binatang pengerat yang terinfeksi juga dapat menjadi penyebab penyebaran infeksi virus. Diperkirakan saliva rodensia mempunyai peranan penting dalam transmisi horizontal di antara rodensia atau dapat terjadi melalui kontak fisik seperti bertengkar atapun yang lain. Penularan dari manusia ke manusia sudah ada kasusnya di Argentina.
A.    Faktor Resiko
Faktor-faktor yang dianggap beresiko untuk terjadinya infeksi Demam Berdarah Hanta adalah bila seseorang tinggal di rumah yang angka kepadatan tikus tinggi, hal ini ditunjukkan dari studi kasus kontrol yang menyatakan bahwa faktor resiko kuat adalah meningkatnya jumlah rodensia (tikus) di rumah. Studi lain menunjukkan bahwa resiko tinggi, bila seseorang masuk gedung atau rumah yang jarang dibuka atau jarang di huni. Faktor-faktor lain adalah yang berkaitan dengan resiko pekerjaan seperti petani padi/gandum, pekerja pertanian, ahli biologi yang bekerja dilapangan, petugas instalasi telepon, air minum, listrik, pegawai bangunan, orang yang senang berkemah atau mungkin juga pejalan kaki. Travelling ke daerah dimana terjadi infeksi virus Hanta dilaporkan tidak dianggap sebagai faktor resiko, karena paparan virus Hanta sangat kecil bila dikaitkan dengan kontaknya rodensia.
B.     Gejala Klinik.
Masa inkubasi Demam Berdarah Hanta secara umum adalah antara 9 – 33 hari dengan dibagi 4 fase pada HFRS dan 3 fase pada HPS.
Fase demam, hampir semua penderita merasakan demam dan dapat mencapai suhu 40 derajat selsius, menggigil, nyeri perut dan badan lemah, terjadi flushing pada kulit muka, leher dan kepala, timbul petechiae (mirip dengan demam berdarah dengue), bisa juga timbul perdarahan pada konjuntiva mata (mirip dengan leptospirosis). Fase ini berlangsung 4-6 hari.
Fase hipotensi
Fase oliguri, dengan kecenderungan air seninya berdarah, edema paru yang bisa saja berakhir dengan kematian akibat syok dan gagal ginjal.
Fase diuretik, volume air seni yang dapat mencapai 3-6 liter/hari (setelah fase oliguri berakhir), timbul dehidrasi berat yang dapat menyebabkan syok berat dan berakhir juga dengan kematian. Fase ini timbul pada hari ke 12-14 hari selama 2-3 minggu.
C.    Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan secara khusus yang berguna secara klinis adalah ELISA, Uji IgM capture ELISA, HTN IgG EIA test. Disamping pemeriksaan darah rutin lainnya.
D.    Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang sangat membantu adalah pemeriksaan foto toraks dan rekam jantung (EKG).
E.     Pengobatan Demam Berdarah Hanta
Pengobatan spesifik terhadap virus Hanta sampai saat ini belum ada, yang dilakukan hanyalah memberikan pengobatan suportif dan simtomatis seperti rehidrasi dan penanganan gagal nafas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
  1. Penerapan Universal Caution secara sempurna di ruang perawatan
  2. Pengobatan suportif umumnya dilakukan termasuk pemantauan hemodinamik, dengan pemasangan line arteria dan kateter arteri pulmonalis
  3. Pembatasan cairan, walaupun secara faktual adanya hemokonsentrasi dan hipotensi. Hal ini mengingat bahwa kelebihan cairan akan memperburuk insufisiensi respirasi, yang berakibat meningkatnya kebocoran vaskuler yang akhirnya cairan masuk ke dalam jaringan paru.
  4. Suplemen oksigen melalui hidung atau dengan masker venturi atau mungkin juga menggunakan alat ventilator bila terjadi insufisiensi respirasi berat.
  5. Vasopressor dianjurkan untuk memperbaiki hipotensi, misalnya dobutamin
  6. Antibiotika, dapat diberikan dengan tujuan untuk menanggulangi infeksi sekunder, bila ada demam dan sesak nafas, sering diberikan golongan sefalosporin dan aminoglikosida.
  7. Ribavirin intravena dapat diberikan dengan dosis 1 gram, tiap 6 jam, tetapi bukti nyata perbaikan penyakitnya masih kontroversi dan disamping itu obat Ribavirin ini masih langka dan belum tentu ada tersedia. 
  8. Sebaiknya penderita Demam Berdarah Hanta tipe HPS ini dirawat di ruang ICU, bila terjadi gagal nafas akibat Acute Respiratory Distres Syndrome (ARDS).  
Sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/07/18/ancaman-demam-berdarah-hanta/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar