Rabu, 22 Desember 2010

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI


PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI UNTUK MENCEGAH KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN DIKALANGAN REMAJA


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah : Reproduksi dan Embriologi
Dosen : Dr. Dewi Cahyani, MM., M.Pd.






Disusun Oleh :
E. FEBRY RISMAN P.
NIM. 07460848
IPA Biologi B / VII




KEMENTERIAN AGAMA RI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NUR JATI
CIREBON
2010


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
            Usia remaja merupakan usia yang paling potensial sebagai sumber daya manusia dalam suatu bangsa, karena mereka merupakan tunas dan penentu masa depan bangsa. Kelompok remaja perlu mendapatkan penanganan dan perhatian yang serius untuk dipersiapkan menjadi manusia yang berguna serta berkembang baik dan benar, meningkatkan kualitas serta kemampuannya sehingga hasil kerjanya akan maksimal. Banyak remaja yang menunjukkan perilaku positif dengan prestasi yang gemilang dari berbagai bidang, namun tidak sedikit pula remaja di kalangan pelajar yang berperilaku mengarah pada hal-hal yang negatif, mulai dari tawuran, merokok, penggunaan narkoba, bahkan sampai perilaku seksual bebas yang berakibat terjadinya kehamilan yang tak diinginkan, adanya tindakan aborsi, serta resiko terkena penyakit HIV/ AIDS atau penyakit menular seksual lainnya.
            Oleh karena itu kalangan remaja digolongkan sebagai kelompok dengan risiko tinggi dan rawan terhadap bahaya penularan penyakit khususnya penyakit menular seksual (PMS), dan cenderung semakin permisifnya hubungan pergaulan antara remaja laki-laki dan perempuan. Pada masa remaja mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan dengan perubahan-perubahan yang sangat dramatis, baik secara fisik, psikis, maupun sosial yang sifatnya individual. Perubahan tersebut akan berjalan demikian pesatnya seiring dengan perubahan emosi, pola pikir, sikap dan perilaku serta timbulnya minat remaja terhadap seks ditandai mulai tertarik kepada lawan jenis masing-masing. Demikian halnya keingintahuan remaja tentang seks semakin besar didorong oleh kondisi lingkungan mulai multi faktorial yang kesemuanya memerlukan penyikapan yang benar agar siap menerima perubahan serta mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
            Meningkatnya minat seksual remaja mendorong bagi remaja itu sendiri untuk selalu berusaha mencari informasi dalam berbagai bentuk, terlepas benar tidaknya informasi tersebut. Sumber informasi dapat diperoleh dengan bebas mulai dari teman sebaya, buku-buku, film, video, bahkan dengan mudahnya membuka situs-situs lewat internet, namun ironisnya sangat sedikit remaja memperoleh pendidikan seksual dari guru ataupun orang tua sehingga tidak jarang remaja melangkah sampai tahap percobaan.
            Dampak keterbukaan informasi dalam era globalisasi baik melalui media cetak maupun elektronika yang semakin canggih dan dengan mudahnya ikut menggeser nilai-nilai budaya, moral dan agama. Menyebabkan munculnya permasalah pada kelompok remaja yang sangat beragam, dan belum semuanya mendapat respon dengan baik sehingga permasalah tersebut belum terselesaikan dan justru berimplikasi pada tindakan-tindakan yang salah.
            Dalam kondisi seperti ini masa remaja merupakan area blankspot tentang dunia kesehatan yang berarti remaja masih belum memahami atau masih kosong mengenai nilai-nilai kesehatan, sehingga hal ini memerlukan perlakuan baik secara teknis, medis maupun metode pelayanannya. Dengan demikian problem sekitar kesehatan reproduksi serta perkembangan kesehatan seksual remaja benar-benar dapat berjalan dan berkembang sesuai dengan perkembangan jaman, tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya maupun norma-norma agama.

B.     RUMUSAN MASALAH
            Remaja merupakan kelompok usia masa yang kritis, karena pada usia tersebut secara biologis berada pada kondisi seksual produktif aktif, sementara belum memungkinkan remaja untuk menikah, selain masih dalam tahap pendidikan juga belum siapnya dari segi psikologis maupun ekonomis. Agar remaja tidak jatuh dalam perilaku seksual bebas maka perlu mendapat perhatian serius salah satu diantaranya adalah pendidikan seksual remaja dan kesehatan reproduksi. Selama ini problem remaja banyak terlupakan karena usaha penanggulangan dan pencegahan PMS akibat dari seksual bebas lebih banyak ditujukan kepada kelompok resiko tinggi lainnya, seperti pada pekerja seks dan kaum homo seksual. Oleh karena itu kelompok remaja perlu mendapatkan informasi atau pengetahuan kesehatan khususnya mengenai reproduksi dan permasalahannya, sehingga perilaku seksual bebas dapat terkendali dan kelompok remaja menjadi generasi muda bangsa yang sehat dan berkualitas.
            Berdasarkan fenomena diatas dan melihat begitu pentingnya kesehatan remaja maka peneliti tertarik melakukan penelitian yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
            “Pelatihan kesehatan reproduksi untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dikalangan remaja”.

C.    TUJUAN
            Makalah ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui permasalahan reproduksi remaja.
2.      Mengetahui dampak terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja.
3.      Mengetahui pengaruh pelatihan kesehatan reproduksi dikalangan remaja.

















BAB II
PEMBAHASAN

A.    REMAJA
a.      Definisi Remaja
            Menurut Undang-Undang Kesejahteraan Anak (UU No. 4/1979), semua orang usia di bawah 21 tahun dan belum menikah disebutkan sebagai anak-anak. Oleh karena itu berhak mendapat perlakuan kemudahan-kemudahan yang memperuntukkan bagi anak (misalnya pendidikan, perlindungan dari orang tua).
            Dalam Undang-undang perkawinan (UU No. 1/1974 Pasal 7), mengenal konsep remaja walaupun tidak secara terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut Undang-undang tersebut adalah 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria. Jelas bahwa Undang-undang tersebut menganggap orang di atas usia tersebut bukan lagi anak-anak sehingga mereka boleh menikah. Batas usia ini dimaksudkan untuk mencegah perkawinan anak-anak. Walaupun begitu, selama seseorang belum mencapai usia 21 tahun masih diperlukan izin orang tua untuk menikahkan orang tersebut.
            Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orangtua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi), belum dapat memberikan pendapat  sendiri. Dengan kata lain, orang-orang yang sampai batas usia 24 tahun belum dapat memenuhi persyaratan kedewasaan secara sosial maupun psikologi, masih dapat digolongkan remaja. Golongan ini cukup banyak terdapat di Indonesia, terutama dari kalangan masyarakat kelas menengah ke atas yang mempersyaratkan berbagai hal (terutama pendidikan yang setinggi-tingginya). Untuk mencapai kedewasaan. Dalam kenyataannya, cukup banyak orang yang mencapai kedewasaannya sebelum usia tersebut.
            Selanjutnya menurut Carballo (1978 : 250), dalam batasan di atas, ada 6 penyesuaian diri yang harus dilakukan remaja:
a.       Menerima dan mengintegrasikan pertumbuhan badannya dalam kepribadiannya.
b.      Menentukan peran dan fungsi seksualnya yang adekuat dalam kebudayaan tempatnya berada.
c.       Mencapai kedewasaan dengan kemandirian, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk menghadapi kehidupan.
d.      Mencapai posisi yang diterima oleh masyarakat.
e.       Mengembangkan hati nurani, tanggung jawab, moralitas, dan nilai yang sesuai dengan lingkungan dan kebudayaan.
f.       Memecahkan problem-problem nyata dalam pengalaman sendiri dalam kaitannya dengan lingkungan.
            Keadaan masyarakat transisi seperti yang diuraikan di atas oleh Emile Durkheim dikatakan akan membawa individu anggota masyarakat kepada keadaan anomie. Anomi menurut Durkheim adalah normlesness, yaitu suatu sistem sosial berupa tidak ada petunjuk atau pedoman untuk tingkah laku. Jadi, adalah keadaan eksternal seperti dalam keadaan hukum rimba yang terdapat dalam masyarakat yang tiba-tiba dilanda perang. Kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan yang biasa berlaku tiba-tiba tidak berlaku lagi. Akibatnya adalah "individualisme". Individu-individu bertindak hanya menurut kepentingannya masing-masing.
b.      Remaja sebagai Anggota Keluarga
            Kiranya tidak dapat diingkari lagi bahwa keluarga merupakan lingkungan primer hampir setiap individu, sejak lahir sampai datang ia meninggalkan rumah untuk membentuk keluarga sendiri. Sebagai lingkungan primer, hubungan antar manusia yang paling intensif dan paling awal terjadi dalam keluarga. Sebelum seorang anak mengenal lingkungan yang lebih luas, ia terlebih dahulu mengenal keluarganya. Oleh karena itu, sebelum mengenal norma-norma dinilai dari masyarakat umum, pertama kali ia menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarganya. Norma atau nilai itu dijadikan bagian dari kepribadiannya. Maka, kita dapat menyaksikan tindak-tanduk orang suku tertentu yang berbeda dari suku lainnya dan di dalam suku tertentu itupun pola perilaku orang yang berasal dari kelas sosial atas berbeda dari yang kelas sosial bawah. Demikian pula agama dan pendidikan bisa mempengaruhi kelakuan seseorang. Semua itu pada hakikatnya ditimbulkan oleh norma dan nilai yang berlaku dalam keluarga, yang diturunkan melalui pendidikan dan pengasuhan orang tua terhadap anak-anak mereka secara turun-temurun. Tidak mengherankan jika nilai-nilai yang dianut oleh orang tua akhirnya juga dianut oleh remaja. Tidak mengherankan kalau ada pendapat bahwa segala sifat negatif yang ada pada anak sebenarnya ada pula pada orang tuanva. Hal itu bukan semata-mata karena faktor bawaan atau keturunan, melainkan karena proses pendidikan, proses sosialisasi atau kalau mengutip Sigmund Freud dalam proses identifikasi.
            Di pihak lain, orang tua pun menghadapi berbagai nilai alternatif. la ingin bertindak otoriter terhadap anaknya karena ia dididik seperti itu oleh orang tuanya sendiri. Akan tetapi, kenyataannya anak tidak bisa dididik secara keras seperti itu. Buku-buku dan tulisan-tulisan di majalah pun menganjurkan pendidikan yang lebih demokratis untuk anak remaja. Akan tetapi, orang tua berpikir lagi, kalau ia melonggarkan cara mendidiknya, dikhawatirkan anaknya akan menjadi manja dan tidak disiplin . Satu contoh sederhana, anak gadisnya minta izin ke pesta dan pulangnya lewat tengah malam. Akan diizinkankah permintaan-permintaan seperti ini? Jawabannya serba salah, diizinkan salah, tidak diizinkan pun salah.
c.       Remaja di Sekolah
            Sekolah adalah lingkungan pendidikan sekunder. Bagi anak yang sudah bersekolah, lingkungan yang setiap hari dimasukinya selain lingkungan rumah adalah sekolahnya. Anak remaja yang sudah duduk dibangku SLTP atau SLTA umumnya menghabiskan waktu sekitar tujuh jam sehari di sekolahnya. Ini berarti bahwa hampir sepertiga dari waktunya setiap hari dilewatkan remaja di sekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa remaja cukup besar.
            Pengaruh sekolah itu tentunya diharapkan positif terhadap perkembangan jiwa remaja, karena sekolah adalah lembaga pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan, sebagaimana halnya dengan keluarga, sekolah juga mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Di samping itu, sekolah mengajarkan berbagai keterampilan dan kepandaian kepada para siswanya. Akan tetapi, seperti halnya juga dengan keluarga, fungsi sekolah sebagai pembentuk nilai dalam diri anak sekarang ini banyak menghadapi tantangan. Khususnya, karena sekolah berikut segala kelengkapannya tidak lagi merupakan satu-satunya lingkungan setelah lingkungan keluarga, sebagaimana yang pernah berlaku di masa lalu. Terutama di kota-kota besar, sekarang ini sangat terasa adanya banyak lingkungan lain yang dapat dipilih remaja selain sekolahnya. Pasar swalayan, pusat perbelanjaan, taman hiburan, atau bahkan sekadar warung di tepi jalan di seberang sekolah atau rumah salah seorang teman yang kebetulan sedang tidak ditunggui orang tuanya, mungkin saja merupakan alternatif yang lebih menarik daripada sekolah itu sendiri. Apalagi, seringkali motivasi belajar murid memang menurun akibat dari adanya berbagai hal di sekolah.
            Memang tidak dapat diingkari bahwa pengaruh lingkungan masyarakat terhadap perkembangan jiwa remaja sangat besar. Bagaimanapun juga, keluarga dan sekolah masih tetap merupakan lingkungan primer yang sekunder dalam dunia anak dan remaja. lingkungan masyarakat hanyalah lingkungan tersier (ketiga) yang derajat kekuatannya untuk merasuk ke dalam jiwa anak dan remaja seharusnya tidak sekuat keluarga dan sekolah. Bahwa lingkungan masyarakat bisa begitu kuat berpengaruh, pada umumnya disebabkan lingkungan primer dan sekunderlah yang sudah menurun kadar pengaruhnya. Oleh karena itu, untuk dapat mengurangi sebanyak mungkin pengaruh yang negatif lingkungan, orangtua dan pendidik di sekolah harus meningkatkan kembali fungsi mereka sebagai pengendali lingkungan primer dan sekunder. Penelitian-penelitian yang sudah dikutip di atas membuktikan bahwa di kalangan anak-anak Indonesia kebutuhan untuk menghargai orang tua dan guru masih cukup besar. Tinggal bagaimana orang tua dan guru memanfaatkan kebutuhan anak-anak itu. Untuk itu, memang diperlukan motivasi yang kuat dari pihak orang tua dan guru sendiri.
d.      Karakteristik Remaja
            SMA merupakan salah satu jenjang pendidikan yang ditempuh pelajar setelah lulus SMP. Usia pelajar SMA secara umum dalam kisaran antara 15 sampai 18 tahun. Hurlock (1993) membagi rentangan usia manusia dalam banyak tingkatan. Usia remaja awal yaitu 13-17 tahun dan remaja akhir 17-21 tahun. Remaja SMA termasuk ke dalam dua kategori tersebut. Pada usia tersebut siswa SMA sedang mengalami masa pubertas. Masa pubertas ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan biologis dan psikologis yang sangat cepat.
            Secara biologis, pertumbuhan anak dalam masa pubertas terlihat pada perubahan bentuk fisik yang cepat disertai tanda-tanda  yang khas yang membedakan dengan jelas antara laki-laki dan perempuan. Pada diri laki-laki mengalami perubahan bentuk seperti ukuran badan yang lebih, besar, kekar dan berotot dari pada sebelumnya, tumbuh bulu rambut di sekitar alat kelamin, dan di bagian-bagian lain seperti betis, dada, kumis, jambang dan lain-lain. Namun pertanda utama masa pubertas laki-laki adalah mimpi basah. Pada diri perempuan, pertanda utama yaitu berupa menstruasi.
e.       Remaja dan Permasalahannya
            Perubahan yang sering terjadi sehubungan dengan masa awal reproduksi adalah anak ingin mengetahui masalah sehubungan dengan reproduksi, khususnya masalah seksual, bahkan tidak cukup mengetahui saja, melainkan ingin mencoba. Menurut UNFPA (1996) remaja cenderung melanggar larangan atau norma yang berlaku di masyarakat berhubungan dengan alat reproduksinya. Remaja tidak dapat sendiri, dan belum siap untuk menghadapi berbagai tantangan dan tanggung jawab yang berkaitan dengan proses reproduksi.
            Masalah remaja kini adalah remaja yang mengalami usia pubertas dini, sedangkan usia pernikahan mengalami kemunduran waktu lebih lama. Sehubungan dengan situasi ini, remaja yang belum memperoleh informasi pendidikan seksual kesehatan reproduksi secara benar, cenderung melakukan hubungan seksual sebelum nikah. Hal yang demikian bertolak belakang dengan pengertian sehat reproduksi, karena reproduksi sehat adalah seseorang memfungsikan alat reproduksinya jika sudah melakukan pernikahan yang sah.
            Akibat perilaku reproduksi yang tidak sehat adalah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan, kehamilan tidak direncanakan. Menurut Carvera (1999) perbedaan pandangan antara orangtua dengan anaknya tentang kehamilan pranikah, seringkali menyalahkan anak karena anak bermasalah dan anak bicara bahwa tekanan emosi keluarga mengakibatkan anak tidak diterima di keluarga. Anak remaja yang belum menikah dan hamil, membuat aib di keluarga dan anak cenderung untuk melakukan aborsi yang dapat mengakibatkan kematian pada ibu. Jika kehamilannya dilanjutkan, maka dalam persalinannya cenderung mengalami gangguan baik pada ibu maupun pada bayinya waktu persalinan dan nifas, berat badan bayi lahir rendah dan infeksi. Selain gangguan tersebut juga dapat mengakibatkan kemandulan dan gangguan jiwa. Disamping itu, remaja yang mengalami kehamilan pada masa sekolah cenderung untuk meninggalkan kegiatan sekolah sehingga mengalami putus sekolah. Akibatnya, remaja tidak mempunyai masa depan yang baik sebagaimana pada remaja lainnya yang tidak bermasalah.
            Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi, agar memilki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memilki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Dengan demikian, perlu memperoleh informasi kesehatan reproduksi antar laki-laki dan perempuan, sehingga pertanggungjawaban tidak dibebankan kepada remaja perempuan.
            Masalah pokok remaja yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi pada saat ini adalah:
1.      Hamil dan persalinan pada usia muda dengan segala akibatnya.
2.      Hamil tidak dikehendaki dan tidak direncanakan yang menjurus aborsi yang tidak aman dan komplikasinya.
3.      Penularan PMS, HIV dan AIDS yang terkait dengan obat terlarang serta hubungan seksual bebas.
4.      Tindak kekerasan seksual perkosaan, pelecehan seksual, transaksi seksual komersial.
            Sedangkan karakteristik antara lain dilatarbelakangi oleh kenyataan sebagai berikut :
1.      Masa remaja merupakan masa yang penuh pencarian identitas dalam proses menuju kedewasaan.
2.      Terjadi perubahan fisik, psikis yang sering membingungkan.
3.      Keinginan untuk diakui sebagai bagian dari kelompoknya.
4.      Lebih mudah berkomunikasi dengan sebayanya atau fihak yang dapat memahami kebutuhan remaja.
5.      Pengetahuan kesehatan reproduksi remaja dan seksual sangat terbatas.
6.      Kematian dan kesakitan pada kelompok ramaja relatif rendah, Namun kejadian KEK dan anemi relatif masih tinggi.

B.     KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN
a)      Definisi Kehamilan yang Tidak Diinginkan
            Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang karena suatu sebab, maka keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut. KTD disebabkan oleh faktor kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar mengenai proses terjadinya kehamilan dan metode pencegahan kehamilan akibat terjadinya tindak perkosaan dan kegagalan alat kontrasepsi.
            Kehamilan yang tak diinginkan dapat dialami oleh pasangan yang belum menikah maupun pasangan yang sudah menikah, remaja, pasangan muda, ibu – ibu setengah baya, bahkan akseptor KB pun, golongan atas, menengah maupun golongan bawah. Orang yang mengalami KTD secara langsung adalah wanita.
            Sebagian besar dari mereka mengambil keputusan dengan pengguguran kandungannya (aborsi). Karena sampai saat ini aborsi di Indonesia masih merupakan sesuatu yang tidak legal, banyak dari pasangan – pasangan yang mengalami KTD mengambil jalan aborsi dengan cara yang tidak aman.
            Kehamilan usia dini, selain berakibat kurang baik bagi tubuh, juga berakibat hilangnya kesempatan untuk mendapat pendidikan formal. Padahal, pendidikan formal yang baik merupakan salah satu syarat (meskipun tidak harus) agar dapat bersaing di masa depan. Alangkah malangnya siswa yang hamil/menghamili, yang telah mengalami berbagai masalah yang berat, harus diperberat masalahnya dengan 'ditutup' masa depannya melalui pengeluaran siswa oleh pihak sekolah.
b)     Faktor Penyebab Terjadinya Kehamilan yang Tidak Diinginkan
            Sebab kehamilan diluar nikah pada remaja dikategorikan dalam dua dimensi, yakni dimensi pasif (wanita hamil sebagai korban perkosaan dan pemaksaan sejenis), dan dimensi aktif (wanita memang berkeinginan melakukan hubungan seksual.
            Kedua dimensi dimuka, dipicu oleh sebab-sebab yang luas. Beberapa diantaranya adalah maraknya pornografi di tengah masyarakat, kemudahan memperoleh akses ke sumber-sumber pemuasan seksual, kebebasan dalam pergaulan, dan pergeseran nilai-nilai moral. Sebab-sebab itu tidak akan melahirkan hubungan seksual pranikah bila remaja memiliki kendali internal (Internal Locus of Control) yang kuat. Lemahnya kendali internal disebabkan kegagalan pendidikan seks baik dalam keluarga, sekolah atau masyarakat. Akibat dari lemahnya kendali internal, remaja mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berasal dari luar dirinya seperti provokasi media, dan pengaruh teman-temannya.
            Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan adalah sebagai berikut:
1.      Karena kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar tentang proses terjadinya kehamilan serta metode-metode pencegahannya.
2.      Akibat terdinya tindak perkosaan.
3.      Kegagalan alat kontrasepsi.
c)      Dampak Terjadinya Kehamilan Yang Tidak Diinginkan
            Terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dikalangan remaja, khususnya remaja putri, akan membawa dampak  besar bagi diri remaja itu sendiri. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi apabila seorang remaja mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, yakni mempertahankan kehamilannya atau malah sebaliknya, yakni menggugurkan kehamilan itu. Kedua kemungkinan tersebut akan memiliki resiko tersendiri baik dari segi fisik, psikis, maupun kehidupan sosialnya.
            Apabila seorang remaja yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan memilih untuk mempertahankan kehamilannya, maka resiko yang harus ditanggungnya adalah sebagai berikut:
1)      Resiko Fisik
            Resiko fisik ini biasanya terjadi pada saat proses persalinan, karena usia remaja belum terlalu siap untuk melahirkan sehingga akan mengalami kesulitan dalam persalinan, seperti pendarahan, komplikasi-komplikasi (premature, IUGR, CPD, dan PEB), hingga kematian.
2)      Resiko Psikis(psikologi)
Dari segi psikis, resiko yang akan diterima remaja nanti adalah sebagai berikut:
a.       Pihak perempuan akan menjadi ibu tunggal karena pasangannya tidak mau menikahinya (tidak mempertanggungjawabkan perbuatannya).
b.      Kalau mereka menikah, maka dalam rumah tangganya akan sering terjadi konflik karena sama-sama belum dewasa dan juga belum siap untuk memikul tanggung jawab sebagai orang tua.
c.       Pada pihak perempuan akan dibebani oleh berbagai perasaan yang tidak nyaman (dihantui rasa mal uterus menerus, rendah diri, berdosa, depresi atau tertekan, dll), hingga mungkin terjadinya gangguan kejiwaan yang parah.
3)      Resiko Sosial
            Dampak yang diterima dari segi social antara lain:
a.       Putus sekolah atas kemauan sendiri karena rasa malu/cuti melahirkan.
b.      Dikeluarkan dari sekolah karena pihak sekolah tidak mentolerir siswi hamil.
c.       Menjadi objek gossip, kehilangan masa remaja yang seharusnya dinikmati, dan terkena cap buruk karena melahirkan anak “diluar nikah”, yang mana akan membebani orang tua maupun anak yang lahir nanti.
4)      Resiko Ekonomi
            Dari segi ekonomi akan berdampak pada kehidupan rumah tangganya nanti, karena merawat kehamilan, melahirkan dan membesarkan bayi/anak membutuhkan biaya yang besar. Karena umumnya usia remaja masih belum siap untuk bekerja mencari nafkah.
            Apabila seorang remaja memilih untuk mengakhiri kehamilannya, dengan kata lain melakukan aborsi. Aborsi adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup diluar kandungan. Aborsi dibagi menjadi dua, yakni aborsi spontan dan aborsi buatan (sengaja). Maka resiko yang akan diterima oleh remaja tersebut adalah:
1)      Resiko Fisik
            Resiko fisik ini misalnya: pendarahan dan komplikasi (infeksi, emboli, terjadi robekan pada dinding rahim, kerusakan leher rahim), atau mungkin berakhir pada kematian. Aborsi yang berulang akan mengakibatkan terjadinya komplikasi dan juga kemandulan.
2)      Resiko Psikis
            Dari segi psikis misalnya:
a.       Bagi pelaku aborsi akan dihantui perasaan takut, panic, tertekan atau stress, trauma mengingat proses aborsi dan kesakitan. Kecemasan karena rasa bersalah akibat melakukan aborsi akan berakhir pada depresi.
b.      Perasaan sedih karena kehilangan bayinya.
c.       Kehilangan kepercayaan diri.
3)      Resiko Sosial
            Dari segi social, dampak yang muncul adalah sebagai berikut:
a.       Ketergantungan pada pasangan menjadi kurang besar karena perempuan merasa sudah tidak perawan, pernah mengalami KTD dan aborsi.
b.      Remaja perempuan kurang sukar menolak ajakan seksual pasangannya.
c.       Pendidikan terputus dan masa depan akan terganggu.
4)      Resiko Ekonomi
            Biaya melakukan aborsi cukup tinggi. Belum lagi bila terjadi komplikasi maka akan membutuhkan biaya yang semakin tinggi.

C.    PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
a.      Pelatihan Kesehatan Reproduksi
            Pelatihan kesehatan adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi individu, keluarga, dan masyarakat untuk menerapkan cara-cara hidup sehat (Depkes RI PKM, 1995).
            Pelatihan kesehatan telah dilaksanakan sejak Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT I) dengan mengembangkan kegiatan pelatihan yang meliputi 3 komponen berupa : penyebarluasan informasi keseahtan, pengembangan potensi masyarakat dan pengembangan petugas kesehatan. Kegiatan ini merupakan bagian terpadu dari program kesehatan yang perlu mendapat penanganan secara professional dengan keahlian khusus, bukan sekedar kegiatan tambahan bagi petugas kesehatan yang seringkali terabaikan dalam pelaksanaannya.
            Dengan pelatihan kesehatan yang diselenggarakan guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat, sehingga diharapkan peningkatan pengetahuan masyarakat, khususnya kalangan remaja melalui desiminasi informasi yang pada akhirnya terjadi perubahan perilaku negatif atau tidak sehat menjadi perilaku sehat, sebagaimana termuat dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, bahwa : “Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal dan setiap orang berkewajiban untuk ikut serta memelihara”. Demikian pula hasil kesepakatan WHO di Alma Ata, bahwa pelatihan kesehatan dianggap sebagai inti dari pelayanan kesehatan dasar yang pada gilirannya merupakan himpunan upaya pokok mencapai “Kemandirian Masyarakat Dalam Bidang Kesehatan”.
            Maka dengan pelatihan kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya kalangan remaja melalui desiminasi informasi, sehingga akan terjadi perubahan dari perilaku negatif atau tidak sehat menjadi perilaku sehat. Karena kecenderungan perilaku remaja yang menjadi tantangan dalam era globalisasi adalah semakin maraknya perilaku remaja yang maladaptif, hal ini dapat terlihat dengan makin meningkatnya kasus aborsi, kehamilan tidak diinginkan, termasuk konsumsi merokok dikalangan remaja serta pengguna Narkotik Alkohol dan Zat Adiktif (NAZA), bahkan tak kalah menarik perhatian dari pemerintah, pendidik, pejabat lainnya, orang tua dan masyarakat adalah kecenderungan remaja melakukan hubungan seksual bebas, yang juga meningkat dan memberi peluang besar tertularnya PMS, menyebabkan angka PMS maupun HIV/ AIDS dikalangan remaja dari tahun ke tahun ikut mengalami peningkatan.
            Perilaku yang tidak sehat inilah sedang merambah dan mewabah di kalangan remaja sebagai asumsi dalam menemukan identitas atau jati diri, sehingga tidak dikucilkan oleh rekan-rekannya dengan mengadopsi budaya modern yang salah, namun dianggap sesuatu sedang trend dewasa ini. Hal tersebut merupakan bagian dari potret kehidupan remaja.
            Oleh karena itu secara operasional pelatihan kesehatan masyarakat meliputi 3 (tiga) dimensi yaitu :
1.      Sasaran pelatihan yaitu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2.      Tempat pelatihan yaitu rumah, sekolah, institusi kesehatan maupun non kesehatan lainnya termasuk tempat-tempat kerja.
3.      Tingkat pelayanan yang mencakup upaya-upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) (Depkes RI PKM, 195).
            Pelatihan kesehatan yang ditujukan kepada kelompok remaja sebagai salah satu sasaran yang beresiko tinggi menjadi sakit untuk tertular penyakit HIV/ AIDS atau penyakit menular seksual lainnya. Oleh karena kecenderungan remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah, yang pada kebanyakan kasus tidak didasari pengetahuan atas dampak yang mungkin akan timbul seperti kehamilan tidak diinginkan (KTD), dilakukannya tindakan aborsi, terkena penyakit-penyakit lain yang dapat timbul akibat perilaku seksual bebas tersebut.
b.      Pengembangan Program Pelatihan Kesehatan Reproduksi Remaja
            Dalam mengembangkan program pelatihan seputar kesehatan reproduksi dikalangan remaja, perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1.      Penyediaan pelayanan klinis.
2.      Pemberian informasi.
3.      Mengembangkan kemampuan.
4.      Mempertimbangkan sisi kehidupan remaja.
5.      Menjamin program yang cocok atau relevan dengan remaja.
6.      Menggalang dukungan dari masyarakat
7.      Pelayanan klinik berorientasi remaja.
8.      Klinik berbasis sekolah.
9.      Program penjangkauan berbasis masyarakat.
10.  Program kesehatan di tempat kerja
            Selain pembinaan terhadap sasaran langsung (remaja/siswa), orang tua juga perlu diberikan pembinaan yang serupa, karena orang tua merupakan faktor penentu keberhasilan program pembinaan kesehatan remaja/siswa, dan orang yang paling dekat dengan siswa. Penyuluhan bagi orang tua siswa mengenai kebutuhan remaja dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung melalui media massa, koran majalah, TV maupun radio, ceramah disekolah. Program yang diberikan adalah penyuluhan pengetahuan kepada orang tua mengenai:
1.      Kebutuhan gizi siswa.
2.      Pengetahuan kesehatan reproduksi remaja.
3.      Pengetahuan tentang tumbuh kembang remaja, baik fisik maupun psikososial remaja.
4.      Penyakit yang sering timbul dikalangan siswa.
5.      Pencegahan penyakit dan timbulnya kecelakaan pada siswa.
6.      Pengetahuan tentang pertolongan pertama kecelakaan atau penyakit yang sering pada siswa.
            Disamping itu, pembinaan terhadap guru juga merupakan hal yang penting. Mengingat guru adalah ujung tombak pelaksanaan pelayanan kesehatan siswa disekolah, maka perlu diberikan pelatihan khusus bagi mereka agar dapat membantu melaksanakan beberapa kegiatan tertentu misalnya:
1.      Pengamatan (Observasi). Pengamatan siswa secara sepintas lalu, misalnya keadaan umum murid baik keadaan penampilan umum/kebersihan diri dan kebiasaan prilaku hidup sehat siswa sehari-hari, apakah ada siswa yang mempunyai kebiasaan merokok atau prilaku menyimpang lainnya.
2.      Deteksi/menemukan anak yang sakit dan bila perlu rujuk ke puskesmas.
3.      Apakah ada siswa yang mempunyai masalah baik kesehatan maupun psikososialnya.
4.      Pendidikan keterampilan hidup sehat (PKHS)/Life skill education (LSE).
5.      Sekolah yang mempromosikan kesehatan.
6.      Penimbangan dan pengukuran tinggi badan siswa setiap 6 bulan sekali.
7.      Pemeriksaan ketajaman penglihatan (Visus) setiap 6 bulan sekali.
8.      Penyuluhan kesehatan baik secara rutin yang diprogramkan maupun secara insidental bila ada waktu luang didalam sekolah maupun diluar kegiatan sekolah (Moersintowarti, 2008:206-207)
c.       Karakteristik Program yang Efektif untuk Mengurangi Perilaku Seksual Remaja yang Berisiko
            Dalam melakukan pelatihan kesehatan reproduksi remaja hendaknya memperhatikan karakteristik sebagai berikut:
1.      Pembinaan harus focus kepada aspek-aspek seputar kesehatan reproduksi remaja, guna mengurangi risiko terjadinya perilaku seksual.
2.      Harus menyajikan informasi yang akurat, tepat usia dan peka budaya tentang risiko yang berkaitan dengan aktifitas seksual yang tidak bertanggungjawab, menggunakan kontrasepsi dan strategi untuk mencegah terjadinya kehamilan serta penyakit menular seks (PMS).
3.      Melibatkan semua partisipan secara aktif.
4.      Menyediakan waktu yang adekuat untuk pertukaran interaktif.
5.      Mengajarkan keterampilan komunikasi yang penting untuk menghindari tekanan social yang mungkin mempengaruhi aktifitas seksual.
6.      Mengaplikasikan model teori yang telah terbukti efektif dalam merubah perilaku berisiko, misalnya teori pengaruh social dan teori kognitif-perilaku.





BAB III
KESIMPULAN

            Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, maka yang dapat disimpulkan dari makalah ini adalah bahwa adanya pelatihan tentang kesehatan reproduksi khususnya yang diberikan kepada kalangan remaja sangatlah penting, melihat kelompok remaja adalah kelompok yang memiliki nilai potensial yang tinggi sebagai sumber daya manusia di suatu Negara untuk dijadikan penerus bangsa yang berguna. Sehingga tingkat terjadinya perilaku seksual dikalangan remaja, khususnya kelahiran yang tidak diinginkan dikalangan remaja dapat dikurangi.
            Pemberian pelatihan kesehatan reproduksi itu sendiri haruslah terfokus pada aspek-aspek seputar kesehatan reproduksi remaja, informasinya akurat dan melibatkan semua partisipan, serta mengajarkan keterampilan informasi yang penting dan mengaplikasikan teori yang efektif.

















DAFTAR PUSTAKA

http://situs.kesrepro.info/krr
http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/27/pengertian-remaja4. /
http://www.smkn2smi.com/kesehatan/?menu=UKS&id=5.4
www.pdf-search-engine.com/6. kesehatan-reproduksi-remaja-pdf.html

MAKALAH REPRODUKSI


KLITORIS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas UTS
Mata Kuliah : Reproduksi dan Embriologi
Dosen : Dr. Dewi Cahyani, MM., M.Pd.




Disusun Oleh :
E. FEBRY RISMAN P.
NIM. 07460848
IPA Biologi B / VII


KEMENTERIAN AGAMA RI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NUR JATI
CIREBON
2010


KLITORIS

A.    Gambaran Umum Klitoris
Klitoris merupakan organ seksual wanita yang ditemukan di ujung sebelah atas antara kedua labia minora (bibir vagina dalam). Klitoris terdiri dari satu daerah bulat atau kepala, disebut kelenjar, dan bagian yang lebih panjang, disebut batang, yang memiliki bentuk-bentuk cekungan mirip dengan yang dipunyai penis. Jaringan dari bibir bagian dalam biasanya menutupi batang klitoris, yang membentuk tudung atau kulit khatan untuk melindunginya. Satu-satunya bagian dari klitoris yang dapat dilihat langsung adalah kelenjarnya, yang terlihat seperti kancing kecil berkilat. Ukuran dan bentuknya berbeda-beda pada setiap wanita. Klitoris dapat dilihat dengan mendorong kulit selubung klitoris ke belakang. Ada banyak sekali ujung saraf dalam klitoris dan di daerah sekitarnya.
Banyaknya ujung saraf dalam klitoris menyebabkannya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan atau tekanan langsung atau tidak langsung. Hal ini mirip dengan penis pada pria. Rangsangan pada daerah klitoris dapat menjadi nikmat, bahkan memberikan pemiliknya kenikmatan seksual merupakan satu-satunya fungsi organ ini yang diketahui, dan klitoris adalah satu-satunya organ manusia yang memiliki pemberi kenikmatan sebagai fungsi utama. Klitoris tidak ada hubungannya dengan kehamilan, menstruasi, atau kencing.

B.     Proses Terjadinya Rangsangan pada Klitoris

Saat seorang wanita menjadi terangsang secara seksual, kelenjar dan batang klitoris terisi darah dan ukurannya membesar. Kelenjar ini dapat menggandakan ukuran diameternya. Tidak ada bukti bahwa klitoris yang lebih besar berarti lebih tinggi rangsangan seksual. Saat rangsangan erotik berlanjut dan orgasme datang, klitoris menjadi kurang terlihat karena tertutup oleh jaringan penutup klitoris yang membesar. Pembesaran ini dirancang untuk melindungi klitoris dari kontak langsung, yang, bagi beberapa wanita, dapat mengganggu daripada mengenakkan. Klitoris akan keluar lagi saat rangsangan dihentikan.
Setelah orgasme klitoris kembali ke ukuran semula dalam waktu sepuluh menit karena orgasme menyebabkan pembubaran darah yang terkumpul. Bila seorang wanita tidak mengalami orgasme, darah yang telah mengalir ke dalam klitoris akibat rangsangan seksual dapat tetap berada disana, menyebabkan klitoris tetap membesar untuk beberapa jam. Banyak wanita yang merasakan hal ini tidak nyaman.
Klitoris seorang wanita dapat dirangsang melalui sentuhan langsung atau tidak langsung. Saat bersetubuh penis tidak menyentuh klitoris secara langsung. Masuknya penis ke dalam vagina, posisi apapun yang digunakan, menggerakkan labia minora, dan gerakan bibir yang menyentuh klitoris ini yang biasanya menyebabkan orgasme. Kontak langsung dengan klitoris dengan menyentuhkan dengan jari, alat penggetar, atau lidah dapat menyebabkan rasa tidak nyaman bagi banyak wanita. Bagi wanita ini, elusan atau jilatan biasa pada daerah di sekitar klitoris dirasakan lebih nikmat. Wanita lainnya menikmati stimulasi langsung. Ada banyak sekali variasi sensitifitas pada klitoris, dan setiap wanita akan menemukan mana yang dirasakan terbaik.

C.    Serba-serbi Klitoris
Karena klitoris sangat mirip dengan miniatur penis, smegma dapat terkumpul di bawah penutup klitoris yang dapat menyebabkan iritasi, rasa sakit, dan ketidakmampuan untuk mengalami orgasme. Penutup klitoris dapat menempel pada keseluruhan kelenjar atau dalam bagian yang menghalangi rangsangan pada kelenjar, membuat orgasme sangat sulit atau tidak mungkin.
Kelenjar pada permukaan dalam dari penutup klitoral menghasilkan bahan minyak yang disebut sebum yang melumasi kelenjar klitoris. Ini merupakan kelenjar yang sama yang berada pada permukaan dalam dari kulit luar penis. Sebum merupakan hasil yang muncul dalam kelenjar klitoris yang sangat lembut dan licin. Ketika bahan minyak ini terkumpul, inilah yang dinamakan smegma, yang memiliki warna putih yang kurang baik.
Kelenjar klitoral membutuhkan pelumas yang dapat membuat penutup untuk bergeser tanpa paksaan. Perangsangan pada klitoris biasanya merupakan stimulasi penggesekan yang sangat sensistif terhadap tekanan langsung. Metode masturbasi pada wanita biasanya membuat penutup klitoris bergeser ke muka dan belakang melewati kelenjar. Jika anda hanya menekan kelenjar dengan jari tangan, wanita mungkin hanya akan merasakan sedikit perasaan sensasi erotis. Jika penutup tersebut tidak menutupi kelenjar secara penuh, kelenjar mungkin saja akan menjadi kering dan mengalami cornification, yang membuatnya kelihatan berkerut. Seperti lapisan dari penis yang di khitan. Meskipun orang-orang mengatakan hal yang berbeda, saya tidak pernah melihat adanya bukti yang menandakan bahwa ini akan mempengaruhi respons terhadap orgasme. Saya tahu ada banyak wanita dengan multi-orgasme dengan kelenjar klitoris yang tidak tertutup secara keseluruhan. Jika kelenjar tersebut masih tersembunyi dalam labia dalam dan luar, tidak akan kehilangan bentuk jika penutup itu dibuat lebih pendek atau dihilangkan.
Jika smegma tidak dibersihkan dari dasarnya, maka ini akan berkumpul dan mengering membentuk biji-bijian kecil yang keras di bawah penutup klitoris. Mengakibatkan iritasi yang dapat menjadi perih. Ini juga dapat menyebabkan rasa sakit selama masturbasi., hubungan intim lewat vagina, dan mungkin saat kita menggunakan celana yang ketat. Sebagai tambahan, penggunaan pembalut juga dapat meyebabkan sakit. Timbunan smegma ini dapat terjadi pada bayi dan juga gadis remaja. Pada kasus ringan smegma yang mengering dapat menyebebakan sedikit iritasi pada klitoris, menimbulkan keinginan untuk menggosok atau menggaruknya. Ini yang menyebabkan gadis remaja sering bermasturbasi. Hasilnya menimbulkan warna kemerah-merahan, iritasi, yang disebabkan oleh seringnya bermasturbasi dapat menyembunyikan masalah yang utama. Wanita dewasa juga dapat menjadi bingung dengan iritasi ringan tersebut, merasa butuh untuk sering bermasturbasi atau melakukan hubungan seks. Sensasi ini seharusnya tidak dicampur-adukkan dengan adanya ereksi pada klitoris. Ketika iritasi semakin kuat, timbul keinginan untuk menyentuh daerah ini, peradangan dapat membuat kontak apapun menjadi menyakitkan. Sehingga timbunan smegma ini selain dapat meningkatkan hasrat untuk melakukan hubungan seks, juga dapat membuat hubungan seks menjadi tidak mungkin.
Jika penutup klitoris memanjang melewati kelenjar, tebal dan tertutup, iritasi mungkin dapat menjadi sangat tersembunyi, karena tidak ada indikasi yang tampak. Seorang dokter dapat memeriksa seorang wanita dan tidak memperhatikan bahwa ada masalah. Para wanita harus secara tegas mengatakan atau menunjukkan dokter mereka daerah dari setiap sakit yang mereka alami di daerah sekitar vulva mereka. Wanita yang mengalami sakit pada vulva harus memeriksa vulva mereka dengan cermin, sambil mencoba mencari sumber dari rasa sakit. Pergilah ke diokter dan katakan, "rasa sakit ada dibawah" tidak akan menghasilkan diagnosa yang akurat. Para dokter mungkin tidak sadar akan kemungkinan dari smegma kering dan perlekatan pada klitoris, kecuali mereka memintanya, mereka enggan memerika klitoris wanita dari dekat.
Iritasi yang disebabkan oleh berkumpulnya smegma mungkin mengakibatkan terbentuknya pelekatan antara glans dan bagian penutup. Hal ini disebabkan oleh dua permukaan jaringan yang terbentuk bersama saat tubuh mencoba untuk mengobati dan menghilangkan sumber iritasi. Perlekatan dapat juga terbentuk sebagai hasil dari penutup yang tetap berhubungan dengan kelenjar glans. Beberapa referensi menyatakan bahwa gadis-gadis dilahirkan dengan penutup yang mengikuti kelenjar klitoris mereka, referensi lainnya mengatakan bahwa perlekatan ini terbentuk setelah kelahiran. Sedangkan referensi lainnya mengatakan bahwa perlekatan ini akan tetap ada sampai masa pubertas.
Perlekatan dapat mencegah atau setidaknya membatasi kemampuan dari penutup untuk menyelip diantara kelenjar glans. Jika anda memiliki perlekatan, ketika anda menarik penutup, maka kelenjar tersebut akan bergerak mengikuti tarikan tersebut. Anda tidak dapat menarik penutup ke belakang cukup jauh untuk membuka keseluruhan kelenjar jika anda memiliki perlekatan, atau sedikit pembukaan pada penutup. Ini membuat sulit atau tidak mungkin dalam pembersihan. Menarik penutup saat anda memiliki perlekatan dapat megakibatkan stress pada klitoris yang mengakibatkan rasa sakit. Kadang-kadang tudung penutup tersebut secara keseluruhan melekat ke glans, memerlukan perawatan khusus dari seorang dokter.
Cara terbaik untuk mencegah perlekatan dan pembentukan smegma adalah dengan menjaga kesehatan yang tepat. Karena kebanyakan pada gadis remaja tidak mengetahui bahwa mereka memiliki klitoris, dan infeksi saluran kencing bukan hal yang biasa pada mereka, ini biasanya karena mereka tidak diajarkan tentang cara sehat yang tepat. Tidak mungkin mengajari seorang gadis untuk mencuci klitoris dan labianya jika dia tidak tahu bahwa dia memilikinya.

D.    Morfologi Klitoris
Orgasme pada perempuan seringkali dikaitkan dengan klitoris. Bahkan, hanya dengan menyentuh dan merangsang klitoris, seorang perempuan dapat merasakan orgasme. Biasa disebut sebagai orgasme klitoral. Akan tetapi ada hal-hal tertentu yang membuat klitoris terasa sakit, bahkan oleh sentuhan yang amat lembut sekalipun. Untuk memahami bagaimana hal ini bisa terjadi, pengetahuan akan morfologi klitoris amatlah penting. Klitoris terletak tepat di atas lubang saluran urin (urethra), di bawah tulang pubik. Klitoris sebenarnya penis yang ‘tidak jadi’, karena itu bagian-bagiannya hampir sama.
Ada kepala (glans) dan batang klitoris yang dilindungi oleh kulit yang disebut hood. Sejumlah perempuan yang disunat waktu bayi, kebanyakan kehilangan glans-nya. Glans bisa terlihat atau tersembunyi tergantung anatomi dan kondisi seksual perempuan bersangkutan. Saat perempuan terangsang secara seksual, glans biasanya membengkak dan sensitivitasnya meningkat. Setiap sentuhan yang diterimanya akan dialirkan lewat batang klitoris yang langsung ditransmisikan ke kumpulan urat syaraf di pangkalnya.
Ketika kepala klitoris membengkak, umumnya akan keluar dari kulit yang menutupinya. Akan tetapi saat rangsangan meningkat, glans akan kembali bersembunyi dalam hood, yang melindunginya dari sentuhan berlebihan. Hood sendiri memiliki kelenjar yang menghasilkan cairan lubrikasi yang disebut sebum sehingga batang dan kepala klitoris dengan mudah keluar masuk. Akan tetapi jika sebum terakumulasi, maka akan terbentuk substansi keputihan seperti keju yang disebut smegma. Jika smegma tidak rajin dibersihkan akan mengeras dan bisa menyebabkan iritasi seperti jika sebutir debu masuk ke mata. Klitoris yang mengalami iritasi seperti ini akan menimbulkan sakit jika disentuh, walau sangat lembut. Celana ketat juga akan membuat perempuan bersangkutan kesakitan.
Akumulasi smegma juga bisa membuat hood melekat pada batang dan kepala klitoris yang juga akan menimbulkan rasa sakit tak terkira. Rajin membersihkannya umumnya bisa mencegah dan mengatasi masalah ini. Namun ada perempuan yang lubang hood-nya amat kecil sehingga sulit untuk mengeluarkan klitoris dan membersihkannya.

E.     Cara Menemukan Klitoris
Menemukan klitoris seorang wanita dapat menjadi sangat sulit. Hal ini disebabkan karena alat kelamin para wanita terdiri dari beribu-ribu ukuran dan bentuk yang berbeda-beda. Masing-masing adalah unik. Yang membuat masalah lebih buruk, ada klitoris yang sangat kecil, dan tersembunyi di bawah lipatan-lipatan kulit. Bahkan ada klitoris yang tidak dapat anda lihat atau rasakan. Banyak wanita yang juga tidak mengetahui dimana letak klitoris mereka berada atau bagaimana rupanya karena mereka tidak pernah diperbolehkan atau berani untuk memeriksa vulva mereka. Atas alasan-alasan ini, janganlah merasa buruk bila anda tidak bisa menemukan klitoris anda sendiri, ketika anda mencarinya untuk yang pertama kali.
Untuk menemukan klitoris, pertama-pertama anda memerlukan jalan masuknya. Hal ini berarti anda harus melepaskan pakaian dan melebarkan kaki anda dengan nyaman. Ini bukanlah sesuatu yang harus anda coba untuk temukan dengan menyelipkan tangan anda ke dalam celana dalam anda.
Ada klitoris yang benar-benar terlalu kecil untuk dirasakan. Semuanya hanya akan benar-benar terasa lembut, hangat dan lembab. Bila klitoris seorang wanita ereksi, pertimbangkanlah apakah klitorisnya memiliki ciri-ciri seperti ini, biasanya lebih mudah untuk ditemukan; karena itu akan merasakan sentuhan anda, tidak lembut dan berespon seperti jaringan yang mengelilinginya. Bila apa yang anda rasakan itu keras dan tidak bergerak, kemungkinan anda telah menemukan tulang kemaluan anda.
Untuk menemukan klitoris wanita, pertama-tama anda harus menemukan dan mengenali labia bagian dalam anda. Hal ini karena klitoris akan berada pada titik dimana mereka (kedua labia bagian dalamnya)  bertemu, dekat puncak alat kelamin yang terbelah. Beberapa labia bagian dalam bergabung pada bagian dasar dari kelenjar klitoris, pada titik yang disebut frenum, sedangkan yang lainnya bergabung dengan penutup kepala klitoris, dan yang lainnya bergabung dengan keduanya. Ini menjadikannya tidak mungkin untuk mengatakan secara pasti dimana labia bagian dalam berakhir dan kepala klitoris dimulai. Ada wanita yang hampir tidak memiliki jaringan labia bagian dalam, sehingga dalam beberapa kasus, anda harus mencari klitoris itu sendiri. Foto-foto yang yang ada dibawah di beri keterangan untuk membantu anda mengenali struktur-struktur bagian yang berbeda tersebut.
Exposed Vulva 
(Pubic Hair Removed) (11K)
Foto diatas memperlihatkan bagaimana model vulva seorang wanita saat labia, bibir, tidak terbuka lebar. Dalam kasus ini, wanita tersebut telah mencukur daerah kemaluannya sehingga segalanya mudah untuk dilihat. Tidaklah penting bagi seorang wanita memotong atau mencukur daerah kemaluannya, itu adalah pilihan pribadi. Klitoris seorang wanita berada pada puncak alat kelaminnya yang terbelah. Dalam foto ini anda sebenarnya tidak dapat melihat kelenjar klitoris seperti pada kasus pada umumnya. Anda hanya dapat melihat penutup dari klitorisnya, yang berada di bawah adalah kelenjar klitoris dan batangnya. Penutup klitoris pada umumnya menyembunyikan dan melindungi kelenjar klitoris yang sensitif. Labia bagian dalamnya agak menonjol keluar melebihi labia bagian luarnya, lebih kurang dibandingkan beberapa kasus lainnya.
Vulva 2 (35K)Vulva 3 (19K)
Vulva 4 (25K)Vulva 5 (38K)
Empat foto di atas memperlihatkan gambaran vulva ketika labia paling luar, labia mayora, telah dibuka lebar. Labia dalam dan penutup klitoris dapat dilihat dengan jelas. Pada dua foto teratas anda juga dapat melihat kelenjar klitoris. Anda  dapat melihat klitoris dalam keempat kasus tersebut diatas terletak pada bagian atas dimana labia bagian dalam saling bertemu, bahkan walapun anda sebenarnya tidak melihat kelenjar klitoris tersebut. Pada foto pertama dari keempat foto tersebut, wanita tersebut sedang memperlihatkan kelenjar klitorisnya dengan menggunakan jari tangannya untuk menarik penutup klitoris ke belakang. Pada foto kedua penutup klitoris dapat ditarik dengan mudah, yang akan tertarik kembali jika telah disingkap. Dalam beberapa kasus anda tidak bisa menarik penutup tersebut untuk melihat kelenjar klitorisnya. Ini mungkin kasus pada dua foto yang kedua. Dalam beberapa kasus penutup klitoris dapat memanjang satu inci (2,5 cm) atau lebih melewati kelenjar klitoris atau pembukaan pada penutup kepala klitoris terlalu kecil untuk membolehkan akses ke kelenjar klitoris. Ini biasanya bukan masalah atau tidak mengganggi kesenangan seksual seorang wanita.
Vulva 6 (99K)
Beberapa wanita-wanita mempunyai alat kelamin yang berkembang dengan baik dan semua struktur dapat dengan mudah bisa diidentifikasi dan tergambar jelas, seperti halnya kasus dalam foto di atas. Klitoris dan labia bagian dalam ditunjukkan dalam gambar  ini adalah di atas ukuranrata-rata. Keempat vulva di atas menunjukkan apa yang mungkin dipertimbangkan "rata-rata" di dalam ukuran. Tidak ada kerugian atau keuntungan dari memiliki struktur yang kecil, rata-rata, atau struktur alat kelamin yang besar. Mereka semua bekerja dengan sama baik. Satu-satunya keuntungan untuk mempunyai labia atau klitoris yang besar, adalah bahwa mereka pada umumnya lebih mudah untuk ditemukan, tetapi tidak harus lebih mudah untuk merangsang dengan suatu cara yang menyenangkan.
Batang klitoris seringkali tersembunyi oleh penutup klitoris dan struktur lain yang mengelilinginya. Untuk menemukannya anda mungkin harus merasakannya menggunakan jari-jari anda. Dalam beberapa kasus ini membantu bila anda mulai memeriksa daerah klitorisnya sebelumnya sebelum dia menjadi bergairah seksual. Bila anda memegang dengan lembut penutup klitoris dan menyelipkan jari-jari anda dengan lembut berputar disekelilingnya, anda bisa merasakan batang klitoris dipenuhi dengan darah. Pada sebagian besar kasus hal ini akan lebih mudah untuk dideteksi, karena rata-rata batang klitoris panjangnya sekitar 3/4 inci (1,9 cm) dan  diameternya kurang lebih 1/4 inci (6 mm). Dalam beberapa kasus anda hanya dapat memperhatikan apa yang terasa seperti pembuluh darah yang terisi penuh dengan darah dan dalam kasus lainnya batang klitoris menjadi terlalu pendek untuk ditemukan. Iilustrasi-ilustrasi dibawah memperlihatkan bagaimana cara memeriksa batang klitoris dengan jari tangan anda.
Clitoral 
Examination 1 (33K)Clitoral 
Examination 2 (41K)











Referensi